Menggapai Jodoh (Bagian 2)

Sesuai janji saya di tulisan terakhir “Menggapai Jodoh (Bagian 1)” , bahwa akan saya lanjutkan di bagian kedua ini untuk membahas seperti apakah jalan yang baik menurut Islam dalam menggapai jodoh, yang sudah terbukti bisa menghadirkan kebahagiaan dalam berkeluarga, sekaligus terbukti sukses menghasilkan generasi penerus yang bermanfaat bagi bangsa, negara, juga agamanya, InsyaAllah.

Islam merupakan agama sempurna yang diturunkan ke bumi (kepada Rasulullah SAW) oleh Allah melalui perantara Malaikat Jibril a.s, sekaligus agama yang sengaja diturunkan untuk memudahkan penduduk bumi menjalani kehidupannya karena didesain langsung oleh Maha Pencipta Seluruh Alam sesuai dengan kodrat manusia, dan karenanya juga akan selalu sesuai dengan kehidupan manusia hingga akhir zaman.

Bila begitu sempurnanya Islam diturunkan ke bumi, bagaimana mungkin ada satu urusan pun yang luput dari ketentuan-Nya? Salah satu urusan manusia yang tentunya terdapat dan diatur dalam ajaran Islam adalah perihal jodoh, namun sayangnya tidak seberapa dari kita yang benar-benar memperhatikan ketentuan Islam dalam urusan ini. Kebanyakan dari kita masih terjebak dalam ketentuan-ketentuan adat budaya, yang beberapa bahkan bertolak belakang dan berlawanan dengan aturan Islam. Namun yang lebih membahayakan adalah meluasnya fenomena ikut-ikutan budaya barat yang kita semuanya tahu bahwa sangat banyak nilai-nilainya yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Wahai saudara/i-ku… sungguh Islam telah memberi kita jalan yang InsyaAllah bila kita ikhlas meyakini dan menjalankannya dengan baik akan membawa kita pada keselamatan dunia dan akhirat. Manusia diciptakan oleh-Nya dengan berpasang-pasangan dan sudah sejak di Lauhul Mahfudz tertulis jelas siapa berpasangan dengan siapa, entahlah bagaimana mekanismenya namun yang pasti kita sudah terlahir dengan takdir dan jodohnya masing-masing, hanya saja belum diketahui siapa, kapan, dan bagaimana akan dipertemukan.

Pernah di suatu kesempatan salah satu teman saya mengutarakan “nikah? mau sih, tapi lihat nanti lah perkembangannya, sekarang jalanin aja dulu, toh masih sama-sama muda, pacaran aja dulu supaya bisa saling kenal lebih baik”

Terdengar begitu biasa, dan terkesan bijaksana bagi seorang pemuda yang tengah dimabuk asmara. Namun taukah saudaraku, Islam tak mengenal istilah “pacaran” atau apalah namanya yang tak memiliki kejelasan dan komitmen sah dalam urusan jodoh. Tiada hubungan lain di samping menikah yang dikenal Islam dalam urusan jodoh, termasuk di antaranya adalah tunangan, pacaran, HTS-an, TTM-an, dll. Sekali lagi saya tekankan bahwa Islam hanya mengenal kata NIKAH untuk menyatukan dua manusia yang berlainan jenis untuk saling berpasang-pasangan dan berjodoh.

Namun bukankah menikah adalah tentang saling komitmen hingga akhir hayat? bagaimana mungkin bisa berkomitmen tanpa terlebih dulu tahu seperti apa orang yang kelak menjadi pasangan kita, yang kelak akan membersamai kita membangun rumah tangga pembawa keselamatan dunia dan akhirat untuk diri kita? Lalu proses seperti apa yang bisa memfasilitasi kita untuk saling mengenal, untuk saling memahami kondisi masing-masing, untuk saling mengerti masa depan seperti apa yang diharapkan, sebelum memberikan komitmen terbaik hingga ujung perjalanan usia kita kelak?

Rupanya Islam sebagai ajaran yang sempurna telah memiliki jawaban itu semua. mau tahu seperti apa proses sebelum menikah yang disyariatkan Islam, yang sesungguhnya sangat sesuai dengan kodrat manusia, yang juga sesungguhnya menjadi kunci kesuksesan pernikahan itu sendiri nantinya?

Silahkan simak tulisan saya berikutnya dalam “Menggapai Jodoh (Bagian 3)”

ramadoni (23 Posts)

Lelaki ini merupakan anak sulung dari dua bersaudara. Tahun 2005, Doni melalui SPMB diterima di program Studi S1 Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia dan mendapat gelar Sarjana Keperawatan tahun 2009. Walau mengenyam materi keperawatan, Ia sebenarnya sangat menyukai bidang Web Development, Photography, Videography, Computer Hardware, Social Media, dan Olahraga (Taekwondo dan Volley). Selama menjadi mahasiswa ia aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa baik tingkat Fakultas maupun Universitas. Di usia 23 tahun Doni mampu membulatkan tekad untuk segera menggenapkan separuh agama nya dengan menikahi perempuan pilihannya, Nurul Widiyastuti. Dalam berumah tangga, Ia ingin sekali menjadi ustadz minimal di keluarga nya sendiri yang senantiasa mengingatkan dan memberi contoh yang baik tentang nilai-nilai Islam.


Leave a Reply