Allah.. aku titip ia

Januari ini kita bertemu lagi. Melalui blackberry messenger yang sebelumnya kamu posting di grup “ IPA Sekolah” di jejaring sosial. Setelah terpisah usai ijazah SMA ditangan, akhirnya kita saling sapa lagi. Kita tahu ini bukan kebetulan, tapi ini garis takdir. Kamu menerima invite ku, karena begitu aku tahu kamu posting pin mu tidak perlu berpikir panjang untuk lebih dulu meng-invite mu.

Teman seperjuangan kala putih abu-abu. XI IPA 1 menjadi saksi pertemanan kita dimulai. Kelas yang rumor nya menjadi kelas unggulan karena rerata terisi oleh para 3 besar dari 8 kelas X saat itu. XI IPA 1 kembali menjadi saksi “perjuangan” para penuntut ilmu dibalik keceriaan dan kekonyolan mereka tiap harinya. Sekolah kita kala itu punya ciri masing-masing dikelas XI IPA nya. Kamu ingat ? ini pernah kita bahas bersama dengan IPA-ers lain, XI IPA 1 itu isinya anak pinter, XI IPA 2 itu anak2 alim, dan XI IPA 3 itu olahragawan. Namun menurutku IPA semua sama, tidak ada beda. Mereka yang masuk IPA adalah orang yang memang dengan sadar memilih itu, sama sadarnya dengan yang memilih IPS. Sehingga mereka bertanggungjawab dengan pilihannya. “IPA atau IPS sama hebatnya, “ dan kamu menyetujui ucapan ku.

Obrolan-obrolan ringan sederhana yang diikuti gelak tawa. Kita selalu begitu, bahkan kita tidak menyangka semester kedua saat guru menunjuk beberapa siswa nya untuk diikutsertakan dalam OSN MIPA , seingatku saat itu diadakan di SMAN 70 . ada beberapa perwakilan dari XI IPA 1, kamu dan aku OSN Matematika, Fauziyyah Arimi OSN Fisika, dan ada siswa lain tapi aku lupa siapa. “masa gw kepilih” celetuk kamu saat di kantin. Aku lupa respon aku apa saat itu, tapi kamu pantas dipilih memang, terbukti bahwa saat rapor semester pertama nilai matematika mu 80 dan aku 78. *ini hanya perbandingan, bukan alasan utama kenapa guru memilih kita ikut OSN”. Pasar Minggu – Bulungan , ah bahkan dulu aku belum tahu arah dan angkot apa kesana. Hari sebelum OSN dimulai kita semua latihan pendalaman soal tiap harinya di sekolah. Untuk OSN Matematika sekolah mengirimkan 5 siswa/i nya, kelas X ada satu orang, kelas XI kita berdua, dan kelas XII ada dua orang. Hari yang buat mata dan tengkuk pegal karena menunduk “melototin” soal 2 lembar itu terlewati sudah. Keluar ruangan tidak satu pun kita membahas itu. Capek. Beberapa pekan setelahnya, surat disposisi keluar lagi atas namaku. Aku menerimanya untuk melanjutkan OSN tingkat berikutnya. Berwajah masam menemuimu karena harus berhadapan dengan soal itu lagi. Tapi dasar kamu pandai membuat orang sekelilingmu tertawa, surat disposisi itu tidak jadi aku lipat menjadi kecil, malah aku selipkan dengan rapi di buku paket matematika ku. Perjuangan OSN selanjutnya, meski tanpa mu, sms dari mu cukup menambah semangat hari itu . kini perwakilan sekolah, OSN matematika aku dan perwakilan kelas X yang lanjut dan Fauziyyah arimi dengan OSN fisika. Beberapa pekan berlalu, informasi dari guru bahwa tidak ada siswa yang lanjut OSN tingkat berikutnya. Namun ada apresiasi kecil dari guru untuk kami yang lanjut kala itu, uang 100ribu rupiah. Melihat kamu iri saat itu , membuat aku terpingkal. “ayolah ke kantin” ujarku. Masa-masa kelas XI IPA 1 yang menyenangkan.

Lanjut saat kita kelas XII semester dua. Ini titik hampir nadir bagi para siswa kelas XII menjelang UN. Bersamaan itu juga banyak tawaran untuk mengisi formulir PMDK beberapa PTN yang mampir ke sekolah. Disaat siswa lain sangat ingin masuk UI mengenakan Jaket Kuning nya, aku bilang padamu “kalo semua pingin masuk UI , ketemu nya dia-dia lagi. Aku ga pingin banget pake jakun. Keren IPB di Bogor, suasana adem. Bisa naik kereta kalau mau pulang.” Hingga akhirnya tawaran PMDK IPB mampir di telinga, kita sama2 isi form itu. Cermat kita isi satu per satu kotak hingga pilihan pertama ku adalah gizi dan kedua biologi. Isian pertama mu teknologi pangan dan kedua gizi. IPB semoga menerima berkas kita. Pengumuman pun tiba, kamu diterima di gizi IPB sedang aku tidak diterima di kedua pilihan ku. Gurau ku saat itu “mungkin karena matematika ku ada kepala 7 nya sedang kamu kepala 8 semua”. Menjadi mungkin karena PMDK juga melihat nilai rapor kita dari semester pertama kelas X hingga semester pertama kelas XII.

Mahasiswa. bahkan saat kita belum UN kamu sudah bisa berlega hati menerima status mahasiswa. Kemudian aku dan teman2 lain meneruskan perjuangan di SPMB. Fomulir pun ku isi dengan pilihan pertama fakultas ilmu keperawatan UI dan kedua teknologi pangan IPB. *tetap harus ada IPB* oh iya beberapa bulan sebelumnya aku menguatkan niat untuk menjadi perawat hingga terpilihlah FIK UI disana, yang padahal sebelumnya usai putih abu-abu kemudian memakai Jaket Kuning itu “TIDAK WAJIB” menurutku. Hingga sekarang kita sudah sama-sama wisuda. Bisa kuliah di PTN itu impian kita bersama, hanya cara Allah beda untuk mewujudkannya. UI dan IPB.

Hai, cinta. Teringat saat kamu tahu bahwa aku sudah tidak lagi memiliki ibu. Usil mu saat itu “kalo anak nya aja baik, apalagi ibu nya ya?” saat pelajaran berlangsung. Bahkan aku tidak tahu kebaikan apa yang aku lakukan. Namun kamu jauh lebih baik. Mengajarkan ku dengan penuh sabar kala integral yang aku merasa kesulitan untuk menghadapi ulangan.

Cinta, sudah bertemu kah kamu dengan ibu ku? Menyisip kan doa untuk ibu ku dan kamu, Rizky Agnestya Andhini, selalu. Karena kamu anak baik, Allah memilihmu lebih dulu untuk menemui Nya. Allah lebih sayang kamu dari pada kami.

Allah, aku titip ia.
bersyukur pernah dipertemukan dan diikatkan hatinya dengan orang baik seperti mu. .
Allahummaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fuanha. .
Ringan kan hisab nya Rabb. . kumpulkan ia bersama orang-orang shalih.. aamiiiiin

lunbul89 (75 Posts)

Bulun panggilannya, merupakan anak bungsu dari dua bersaudara. Melalui SPMB tahun 2007 Nurul berhasil menjadi mahasiswi Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Ia mendapat gelar Sarjana Keperawatan Tahun 2011. Melanjutkan program studi Profesi Keperawatan satu tahun setelah nya hingga meraih gelar Ners. Juli 2012 ia menyudahi rangkaian studi selama 5 tahun. Aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa tingkat Fakultas, Lembaga dakwah Kampus juga Lembaga Dakwah Fakultas menjadi “tempat belajar” Nurul selama menjadi mahasiswi. Perempuan yang suka membaca buku, menulis, dan membaca puisi ini mengakhiri masa lajang nya dua bulan usai berakhirnya program profesi. Masih berdecak kagum dan bertasbih memuji Tuhan nya ketika dengan sadar bahwa yang menjadi suami nya kini ialah kakak tingkat satu fakultas nya saat menjadi mahasiswi yang meng-ospek angkatan-nya saat tahun 2007 lalu.


Categories: Uncategorized

Leave a Reply