Berdoa Lalu Diperkenan

Kan Allah udah bilang “Berdoalah padaKu, maka akan Ku perkenan untukmu” (QS.Al-Mu’Min :60)

Yak, saya menulis itu 5 Juli lalu di twitter sesaat setelah kabar bahagia datang dari saudari serahim, mbak yuyun, kakak saya satu2nya. Kiriman foto garis dua merah pada test pack yang dilakukannya membuat airmata saya tumpah.

“Alhamdulillah AllahuAkbar !”

Kembali menjadi saksi, buah dari kesabaran dan rentetan doa seorang hamba yg menjadi nyata. Kesabaran yang dipupuk hampir 5 tahun dari awal pernikahan. Juga doa yang dilangitkan tiap waktunya.

“Sekarang udah terserah Allah aja, “ kalimat ini pernah mbak yuyun ucapkan melalui telepon sekitar April-Mei lalu. Kalau ini bentuk keputusasaan, bukan. Sungguh bukan. Ini bentuk tawakal seorang hamba atas apapun takdir terbaik yang Allah berikan.

Sempat pembicaraan agar ia mengadopsi anak pun saya lontarkan. Bukan juga karena sebagai ‘pemancing’ . Mengertikan maksudnya? Jadi, bagi masyarakat kebanyakan jika pasangan mengadopsi anak, kemudian anak adopsi ini tumbuh sehat , atau dengan kata lain pasangan ini sukses dalam membesarkan anak adopsi ini. Maka Allah akan mempercayakan amanah kepada sang istri, kelak sang istri mengandung . Perumpamaan sederhananya , ketika kita berbuat baik , ya kita patut dapat hadiah. Namun perkara niat adopsi yang saya wacana kan kala itu bukan sesederhana perumpamaan tersebut. Perkara ini lebih dari untuk mendapat hadiah 🙂

Saya mengajak anda untuk sedikit menyelami pemikiran seseorang yang saya dapatkan sekitar awal tahun ini. Percakapan via telepon yang tidak akan saya lupa. Seorang suami yang mengutarakan pikiran yang ia miliki untuk ia bagi dengan istrinya. Silahkan menyimak dengan hati lapang 🙂

“Nanti ada saja kemungkinan untuk menanti buah hati. Mama bapak di rumah perlu waktu 2 tahun untuk punya aku. Dan ibu bapak mu, mendapatkanmu perlu waktu 10 tahun dari kelahiran anak pertamanya. Keluarga kita punya jeda waktu dahulunya. Semoga ini yang akan melapangkan jika memang harus menanti. Kadang aku kepikir lho kenapa anak yatim/piatu yang dititip di panti asuhan ga ada habis-habisnya, mungkin karena Allah ingin kita juga menyayangi mereka. Kenapa juga ada pasangan yang lama belum punya keturunan. Bisa jadi karena ada anak yatim/piatu itu yang amat butuh kasih sayang pasangan yang belum punya keturunan ini. Ini cara pikirku. Kalau Menurut mu? ”

Saya batasi hingga disini mengenai percakapan sang suami. Semoga Allah melimpahi keberkahan kepada pasangan suami -istri tersebut, aamiiin 🙂

Melanjutkan perkara adopsi anak tadi, bukan semudah mendapat hadiah setelahnya. Tapi lebih untuk menyayangi , merawat, dan me- lainnya yang tujuannya untuk kebaikan anak yatim/piatu yang akan diadopsi. Bukan kah, Rasulullah amat mencintai anak yatim?? Berbahagialah kita yang juga mampu menghidupkan sunnah-nya. Meski anak ini bukan anak kandung, jika pasangan mampu men-shalih-kan , insyaAllah surga balasannya. Jadi. Perkara adopsi anak ini tidak sesederhana untuk sang istri bisa hamil. Tapi lebih dari bisa hamil, yaitu menyayangi, merawat men-shalih-kan hingga surga tujuannya. Apakah nanti nya sang istri akan hamil , seperti rumor masyarakat ?? Ah itu urusan Allah. 🙂

Seperti hal nya Asy-syahid imam hasan al banna katakan :

“Tabir yang memisahkan antara kita dengan keberhasilan hanyalah keputusasaan.”

Berserah pada takdir terbaik dan putus asa itu berbeda. Pastilah ada ikhtiar yang sungguh, rentetan doa yang melangit, dan prasangka baik atas keputusan Nya agar tabir pemisah kita dengan tujuan itu tidak ada.

Hingga doa saya pun menjadi nyata :
” Allah jika ramadhan lalu engkau menghadirkan seorang lelaki shalih untuk ku. Semoga ramadhan ini kau memberikan bayi shalih untuk mbak yuyun :’) aamiiiin ”

Jadi,
Masih ada keraguan untuk berdoa lebih, berusaha lebih, juga menambah prasangka baik tiap waktu nya?
Jangan lah, rugi !
Karena Allah selalu tepati janji 🙂

Salam terbaik penuh doa untuk keponakan shalih dalam rahim perempuan shalihah nan sabar .

“Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh kaka champ , sehat shalih selalu sayang :* “

Pulau Ende , 1 Ramadhan 1434 H
14.23 wita

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.