long distance marriage #1

“Selamat datang lembar baru”

Rasanya ucapan diatas tepat untuk menyatakan perasaan saya saat ini. Tepat sepekan sudah meninggalkan Kota Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. 24 Oktober 2013 merupakan titik mula perjalanan hidup yang sebenarnya. Kembali ke dunia nyata. Menjadi seorang anak bungsu bapak , adik satu-satunya dari seorang kakak perempuan, adik ipar mas erwin, istri ferdias ramadoni, anak mantu bapak dan mama, juga satu-satunya kakak ipar indita safira.

Peta_TMII

Apa pernah terpikir untuk menikah lalu berpisah selama satu tahun? Tentu jawabannya tidak. Impian setiap kita pastilah setelah menikah hidup berdampingan dengan pasangan. Setiap hari bertemu mencipta ketenangan hingga saling mengasihi dalam rahmat Nya.

Pertemuan di pelaminan saya dengan suami setelah menikah 3 hari rupanya harus dipisahkan selama satu tahun. Kami menyebutnya Long Distance Marriage (LDM). Banyak pertanyaan selama awal-awal menjalani LDM ini.

Ketika ditanya oleh seorang teman saat bertugas di Puskesmas Pulau Ende
“Kok mau sih udah nikah lalu tugas disini ? kan jauh dari suami”

“Amanah dari orang tua untuk kerja setelah lulus kuliah awalnya. lalu jodoh datang, kemudian nikah. Mau nunggu apa? Hehe” Jawab saya enteng.

Kemudian teman satu tim di penugasan mengungkapkan pernyataan yang cukup membuat saya merenung sebentar,

“Gw baru nemu nih pasangan yang istri nya malah tugas jauh sedang lelaki nya posisi menunggu istrinya pulang tugas. Biasanya kan suami yang tugas jauh istri yang nunggu.”

“Ah iya , gw juga baru nemu dan langsung dipilih jadi pemerannya sekarang.” celetuk saya membatin.

Lalu juga ada tanggapan frontal dari teman SMA saya,

“Lun, lu beneran mau LDR an? Gw aja udah dua kali LDR ama pacar gw ujung-ujung nya putus.”

#jlebb moment lah yang satu ini. spontan nge jawab “lah itu kan pacar, kalau ini udah suami.”

Lanjut dibalas teman saya “karena udah jadi suami, makanya hati-hati kalo ambil keputusan untuk LDR. Jangan kayak gw putus udah dua kali.”

#tetot kemudian saya memilih diam. karena mau dijelaskan seperti apapun tipe teman yang satu ini gak mau kalah.

Meski banyak juga di luar sana yang men-support bahkan memantau jalannya proses LDM kami setahun kemarin karena menurut mereka agar menjadi contoh dan tempat belajar bila hidup ke depannya akan seperti saya dan suami.

jadi , hikmah apa yang didapatkan selama satu tahun? apa suka dan duka menjalani LDM kemarin? serta apa tips bagi yang akan menjalankan LDM agar sakinah selalu ada hingga mencipta mawaddah dan rahmah?

sampai jumpa di tulisan long distance marriage #2

lunbul89 (75 Posts)

Bulun panggilannya, merupakan anak bungsu dari dua bersaudara. Melalui SPMB tahun 2007 Nurul berhasil menjadi mahasiswi Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Ia mendapat gelar Sarjana Keperawatan Tahun 2011. Melanjutkan program studi Profesi Keperawatan satu tahun setelah nya hingga meraih gelar Ners. Juli 2012 ia menyudahi rangkaian studi selama 5 tahun. Aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa tingkat Fakultas, Lembaga dakwah Kampus juga Lembaga Dakwah Fakultas menjadi “tempat belajar” Nurul selama menjadi mahasiswi. Perempuan yang suka membaca buku, menulis, dan membaca puisi ini mengakhiri masa lajang nya dua bulan usai berakhirnya program profesi. Masih berdecak kagum dan bertasbih memuji Tuhan nya ketika dengan sadar bahwa yang menjadi suami nya kini ialah kakak tingkat satu fakultas nya saat menjadi mahasiswi yang meng-ospek angkatan-nya saat tahun 2007 lalu.


Leave a Reply