cantik sih, tapi. .

sumber : http://www.pinterest.com/pin/349099408586471010/

sumber gambar : http://www.pinterest.com/pin/349099408586471010/ 

Menulis karena kembali dihadirkan dua momen bahagia dari para teman baik di jejaring sosial maupun kenal di dunia nyata.

 

Double W: Wisuda dan Walimah

Barakallahu..

 

Bukan momen sakral saat akad atau pendamping wisudanya siapa yang ingin saya tulis, tapi mengenai bagaimana kita menjaga syar’i nya pakaian saat dua momen itu. Syar’i karena Allah memerintahkan untuk menutup aurat dengan cara yang Allah tentukan. Berawal dari kudung yang menutupi dada.

 

Adakah dari kita pernah memberi tahu orang tua atas apa yang kita yakini kebenarannya itu merupakan hal  yang baik? Bahkan bukan sekedar baik, tapi karena memang Allah yang perintahkan.

Singkatnya,

Ketika kita baligh dan paham bahwa berkerudung yang benar itu harus menutupi dada meski baru tahap belajar, ya lakukan lah. Komunikasi kan dengan orang tua atas apa yang menjadi pilihan dan keyakinan diri untuk berkerudung. Bersyukur jika orang tua kita mempunyai pemahaman agama yang baik – semoga mereka selalu mendoakan kita agar istiqomah atas pilihan berkerudung ini -.  Kemudian akan menjadi sangat baik ketika sudah paham lalu terlihat dalam penampilan sehari-hari. Saat pergi , kuliah, atau bahkan ke pasar , kerudung kita menutupi dada.

 

“Loh kok Bisa..” kalimat semacam ini muncul dan meresahkan di benak saya beberapa tahun belakangan. Sumbernya berasal dari saat sesekali membuka laman jejaring sosial muncul foto-foto baik wisuda maupun walimah orang yang saya kenal di dunia nyata.

Kerudung itu menyusut sekian cm, bebat sana sini, dan jelas dada tidak lagi tertutup. Gerangan apa yang mengubah semua itu, shalihah?

Pernah bertanya karena memang teman lumayan dekat, beliau bilang karena saat walimah itu sekali seumur hidup jadi mau tampil yang terbaik. Ada juga yang mengikuti adat keluarga, sayangnya tanpa bargaining ke orang tua, ikut saja.

Kenapa bargaining? Bargaining di sini maksudnya lebih pada bagaimana cara kita sebagai anak untuk menyampaikan pernikahan impian yang sudah kita rencanakan kepada orang tua dan keluarga. Termasuk cara kita berpakaian saat di pelaminan.

Sama cerita dengan yang wisuda. Perayaan yang mungkin satu kali dalam hidup. Euforia mahasiswa pada satu hari. Satu hal yang saya pahami bahwa jelas kita mau bikin orang tua bangga atas kelulusan ini. Tapi apa harus menjadikan aturan yang Allah tentukan kita tinggalkan meski dalam satu hari.

 

Yang padahal pada momen wisuda maupun walimah itu, banyak mata yang berkumpul di tempat yang sama dengan kita. Baik dia laki-laki maupun perempuan.

Yang padahal pada momen wisuda maupun walimah itu, Allah menambah nikmat Nya pada kita.

 

Jika Allah telah memerintahkan, apa pantas kita tinggalkan?

Seharusnya pada momen yang sangat berharga sekalipun bagi kita, kita maknai dengan ke-istiqomah-an dan rasa syukur yang mendalam.

 

“Allah, mampukan kami untuk terus menjalankan apa yang telah Kau perintahkan dan menjauhkan apa apa yang telah Kau larang.. Aamiiiin”

 

 

 

– cilandak, di bawah separuh bulan.

 

 

lunbul89 (75 Posts)

Bulun panggilannya, merupakan anak bungsu dari dua bersaudara. Melalui SPMB tahun 2007 Nurul berhasil menjadi mahasiswi Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Ia mendapat gelar Sarjana Keperawatan Tahun 2011. Melanjutkan program studi Profesi Keperawatan satu tahun setelah nya hingga meraih gelar Ners. Juli 2012 ia menyudahi rangkaian studi selama 5 tahun. Aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa tingkat Fakultas, Lembaga dakwah Kampus juga Lembaga Dakwah Fakultas menjadi “tempat belajar” Nurul selama menjadi mahasiswi. Perempuan yang suka membaca buku, menulis, dan membaca puisi ini mengakhiri masa lajang nya dua bulan usai berakhirnya program profesi. Masih berdecak kagum dan bertasbih memuji Tuhan nya ketika dengan sadar bahwa yang menjadi suami nya kini ialah kakak tingkat satu fakultas nya saat menjadi mahasiswi yang meng-ospek angkatan-nya saat tahun 2007 lalu.


Leave a Reply