Menggapai Jodoh (Bagian 1)

Sebelumnya perkenankan saya mempersembahkan tulisan ini untuk para sahabat dan saudara saya yang masih berjuang menggapai jodohnya.

Memang perkara jodoh ini tidak bisa dipisahkan dengan impian dan harapan dari seorang anak manusia yang memang diciptakan oleh Tuhannya sebagai makhluk yang berpasang-pasangan dan saling rindu-merindukan, oleh karenanya pantaslah bila kata “menggapai” disematkan dalam judul tulisan ini.

Jodoh selayaknya impian, perlu diperjuangkan agar menjadi sebuah kenyataan. Namun jodoh Β adalah impian yang unik dan memiliki karakteristik yang berbeda dari impian-impian yang lain. Bila impian pada umumnya perlu diusahakan secara langsung dan tidak memiliki beda cara memperjuangkannya bagi lelaki dan perempuan, maka cara memperjuangkan jodoh menjadi berbeda bagi laki-laki dan perempuan dan sangat perlu diusahakan secara tidak langsung.

Apa yang dimaksud dengan mengusahakan jodoh dengan cara tidak langsung? yaitu senantiasa memperbaiki kualitas diri, baik dalam hal kualitas keduniawian maupun spiritualitas kita di hadapan Sang Pencipta. Karena jangan harap bisa mendapatkan jodoh yang baik, bila diri sendiri saja belum termasuk ke dalam golongan orang yang baik. Banyak yang menuntut kriteria pasangan idamannya jauh di atas kualitas dirinya sendiri, inilah yang menyebabkan orang merasa “sulit jodoh”, padahal yang mereka alami sebenarnya adalah “sulit introspeksi diri”.

Adapun perbedaan cara memperjuangkan jodoh bagi laki-laki dan perempuan seperti yang saya kemukakan di paragraf awal tadi adalah bahwa si laki-laki berhak memilih calon pasangannya, sedangkan si perempuan berhak menolak bila dirinya merasa tidak sesuai dengan laki-laki yang telah memilihnya sebagai calon pasangan. Rupanya tidak banyak berbeda bukan? karena keduanya masih sangat perlu memperbaiki kualitasnya masing-masing, si lelaki sebaiknya berusaha terus memperbaiki diri untuk meningkatkan peluang ia tidak ditolak setelah memilih perempuan yang sesuai dengan kriterianya, sebaliknya si perempuan juga sebaiknya terus memperbaiki diri dan pengetahuannya untuk meningkatkan peluang bahwa dirinya lah yang kemudian akan dipilih sekaligus memastikan bahwa lelaki yang memilihnya adalah lelaki yang baik bagi diri dan agamanya.

Ah iya, saya lupa memberikan definisi jodoh yang saya maksud dalam tulisan ini. Jodoh dalam pandangan saya dan istri adalah sebuah proses yang justru baru dimulai sesaat setelah si laki-laki dan perempuan yang saling mencinta disatukan dalam prosesi akad nikah dan berakhir saat Allah mencabut nyawa atau hilang iman keislamannya. Agar jelas bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan di luar pernikahan bukanlah termasuk proses berjodoh apalagi bila disebut proses untuk menemukan jodoh.

Jodoh pun sangat jauh kaitannya dengan kekurangan rezeki, karena nyatanya justru jodoh lah yang menyelamatkan rezeki para perjaka dan perawan yang serius menggapai jodohnya melalui jalan yang baik dan penuh keikhlasan di setiap langkah proses pencarian jodohnya.

Lalu seperti apakah jalan yang baik menurut Islam dalam menggapai jodoh, yang sudah terbukti bisa menghadirkan kebahagiaan dalam berkeluarga, sekaligus terbukti sukses menghasilkan generasi penerus yang bermanfaat bagi bangsa, negara, juga agamanya??

Silahkan simak tulisan saya berikutnya dalam “Menggapai Jodoh (Bagian 2)”

4 Comments

Leave a Comment