fa aina tadzhabun , jiwa?

Pada usia ini saya menyadari bahwa banyak perubahan dalam hidup.
Waktu terus berlalu dan selalu seperti itu.
Pemahaman mengenai tujuan hidup pun bertumbuh
hingga mencemaskan, sudah berapa banyak amal kebaikan yang didapat.
Kelak amal baik tersebut menjadi sejatinya teman, bukan orangtua, suami, juga saudara.

Hari ke hari pemahaman akan tujuan hidup menemui titik ujungnya.
Kecil dulu bisa jadi saya puasa karena orang tua mendidik saya untuk puasa, tanpa saya tahu dalil yang memerintahkan berpuasa ramadhan. Shalat pun dimulai mengikuti gerakan shalat nya orangtua tanpa hafal dan fasih dengan bacaan shalat. Juga keinginan dan kerinduan melihat ka’bah, sudah dikenalkan sejak saya manasik haji dari raudhatul athfal th 1995 lalu. Lalu ibadah lain-nya yang saat kecil sudah mulai ditanamkan orang tua. Ini kisah saya, bisa jadi sama atau bahkan berbeda dari anak kecil kebanyakan.

Kini, pemahaman itu mulai tumbuh.
Mendewasa seperti halnya usia.
Sadar bahwasanya tujuan hidup menjadi kunci utama segalanya.
Menjadi pengingat saat alpha hadir.

Bukan kah sangat jelas bahwa :
“Tidaklah Aku jadikan jin dan manusia, kecuali agar mereka beribadah kepada Ku”. (Az-Zariyat: 56)

Fa aina tadzhabun, duhai jiwa yang hidup?

Semoga Allah selalu menjadi tujuan.
dalam gerak, dalam ucap, juga dalam niat. pada fajar hingga senja. pada terbuka nya mata hingga tertutup untuk selama nya.

sudah kah banyak teman sejati mu?
yang sebenar-benarnya teman.
yang sebaik-baiknya teman.
Renungkan lalu perbanyak lah selagi malaikat maut belum muncul dihadapan.

Leave a Comment