(bukan) Surat Cinta

Ini bukan surat cinta
Hanya bentuk sapaan kepada mu
Lelaki yang mengguncang arsy’ Allah saat Ijab Qabul 7 September 2012 lalu
Di usia 23 nya ia mampu memberanikan diri untuk menggenapkan separuh agamanya

Apa kabar kamu, mas?
Hei ingatkah, aku mengubah panggilan dari kakak menjadi mas?
kaku adalah ketika aku memanggil mu “mas” untuk pertama kali
Usai akad saat masih menggunakan gaun walimah

Mendesir hati saat jemari berpaut pertama kali
Tergelak tawa hadirin yang datang saat aku meminta jeda waktu sekian detik untuk mengatur nafas,
Meregangkan kekakuan yang bersumber pada ku,
kala mahar yang berupa cincin bersiap kau sematkan
menyentuh mu untuk pertama kali nya, seperti ada gemuruh dari bongkahan es yang meleleh
Ya. Aku masih bisa merasakannya.
Terbayang betapa lucu nya momen itu , rona wajah sudah tak ku pedulikan.
Bersemu. Malu.

Mas, apa kabar mu ?
Maaf untuk akhirnya aku melakukan safar tanpa mu.
Seperti halnya yang selalu kau bilang, “ini ujian awal pernikahan kita, semoga barakah”
Ah. Kamu selalu saja membuat aku bersyukur menjadi istri mu.
Lelaki shalih yang menginginkan keberkahan dalam rumah tangga nya.
Sekali pun istri nya berada ratusan ribu kilometer darinya.

“aku kangen shalat jama’ah sama kamu”
“tilawah bareng yuk”
Tertatih dalam tilawah pun kamu seksama memperbaiki bacaan tajwid ku.
Saat beberapa kesempatan kita shalat jama’ah sebelum aku merantau
Rawatib tidak pernah kau tinggalkan.
Dan ini membuat nilai syukur ku bertambah menjadi istri mu, mas.
Betapa aku merasa Allah sangat menyayangi ku, hingga aku disandingkan dengan mu.

Pernah aku rindu hingga menyesak dada akan inginnya jumpa
Memberi tahu mu kalau aku rindu, pasti ku lakukan
Hingga akhirnya aku melabuhkan rindu ini di sujud panjang ku
Berharap agar rindu ini terus bertumbuh dan mampu ku pupuk
Juga disiram dengan air mata syukur tiap menjumpai Nya

Mas,
Aku mencintai mu hingga dada ini bergemuruh
Mencintai mu hingga berharap cinta ini berbuah surga

1 Comment

Leave a Comment