Maaf Pak, Kasihan Bapak Nanti di Akhirat..

Kira-kira pukul 8.30 malam peristiwa menarik ini terjadi, setelah saya berhenti sejenak di pinggir jalan Margonda untuk kembali memulihkan konsentrasi saya mengendarai motor yang menurun karena mengantuk.

Sudah menjadi kebiasaan saya untuk mematikan lampu utama motor bila berhenti sejenak di pinggir jalan bila kantuk mulai terasa, namun malangnya saat malam itu saya lupa menyalakan kembali lampu utamanya, walhasil saat melintas di persimpangan lampu merah sebelum melewati terminal Depok, muncul lah seorang polisi yang memberi isyarat agar saya menepi.

tilang polisiSaat pak polisi memberi isyarat tersebut saya masih belum sadar akan kesalahan saya malam itu, “Coba dinyalain pak lampu besar motornya..” kata pak polisi kepada saya setelah beliau memberi gerakan hormat khas petugas kepolisian sebelum menindak pelanggaran di jalan raya. Barulah saya sadar bahwa lampu utama motor saya berada dalam keadaan mati, alias tidak saya hidupkan kembali setelah saya matikan sebelumnya waktu berhenti di pinggir jalan tadi.

“Oh iya, duh maaf pak, saya bener-bener lupa, saya tidak sengaja pak” bela saya malam itu

“ya mana ada pak pelanggaran yang kemudian ngaku disengaja, coba saya lihat identitas dan surat-suratnya pak” sahut pak polisi tersebut.

Merasa dalam bahaya ditilang dan akan diambil SIM-nya, saya masih bersikeras membela diri dan memperlihatkan SIM saya ke pak polisi tersebut dalam keadaan terpegang oleh saya dan tidak saya berikan kepada pak polisi itu.

“mas apa-apaan sih, sini berikan ke saya SIM-nya, saya mau lihat” kata polisi tersebut dengan nada membentak

Bentakan pak polisi tersebut kemudian menyadarkan saya, “oh iya ini keteledoran saya sendiri, saya harus menghadapi dengan cara baik apapun resikonya” gumam saya dalam hati, kemudian dengan pasrah memberikan SIM saya kepada polisi tersebut. Kemudian benar saja SIM saya langsung dibawa pergi dan pak polisi meminta saya untuk mengikuti beliau.

Polisi pertama yang meminta SIM saya tadi rupanya menyerahkan saya kepada rekannya sesama polisi yang terlihat duduk di depan kios kosong di pinggir jalan, kira-kira 50 meter dari tempat Polisi pertama berdiri untuk menghentikan laju motor saya. Polisi kedua ini mempersilahkan saya duduk di kursi plastik yang ada di hadapannya.

“Jadi gimana ini mas?” tanya polisi kedua kepada saya.

“Tadi kan sudah diceritakan oleh teman bapak tentang kesalahan saya, ya selanjutnya silahkan bapak memproses saya menurut aturan yang ada, saya minta slip merahnya saja pak” sahut saya tanpa ekspresi, karena sebelumnya saya lihat polisi pertama sedikit berbincang dengan polisi kedua dengan sesekali menunjuk ke arah saya, jadi saya pikir polisi kedua ini sudah tau duduk perkaranya.

“Tapi kalo mau saya bantu juga bisa lho ini, gak pake lama” pak polisi kedua itu mencoba menawarkan suap.

“Maaf, jangan pak, jangan begitu, kasihan bapak nanti pertanggung jawabannya, kan saya yang salah pak karena lupa nyalain lampu, biar saya saja yang menanggung kesalahan, bapak jangan sampai ikut terbebani di akhirat nanti, jadi kasih saya slip merahnya saja pak” sahut saya dengan nada rendah, takut beliau tersinggung.

setelah saya menjawab seperti itu, beliau cukup lama terdiam, adalah kira2 20-30 detik dia hanya melihat kartu SIM saya tanpa mengucapkan dan melakukan tindakan apapun.

lalu tiba-tiba polisi kedua ini kembali bertanya “Wah tinggal di kampung utan ya? RW berapa? baru pulang kerja nih mas?”

“RW 3 pak, iya baru pulang kerja” jawab saya sekenanya

“Oh berarti kenal dengan Pak RT Rudi ya? itu lho ketua RT 3, tetangga nih berarti kita, saya di perumahan Permata Depok, gak jauh dari kampung utan” kata polisi kedua menyambung jawaban singkat dari saya.

“oh mungkin ayah saya yang kenal pak, saya jarang kumpul dengan bapak-bapak di sekitar rumah soalnya” sambung saya lagi.

“Oh begitu yaudah, salam dari Pak xxx ya buat Pak Rudi kalo ketemu, udah ini SIM kamu, lain kali jangan lupa nyalain lampu besarnya kalo mau jalan, untung ketemu sama saya kamu” sahut polisi kedua seolah sudah lama mengenal saya, padahal saya sama sekali tidak pernah tahu kalau ada polisi yang tinggal di sekitar tempat tinggal saya.

Tanpa banyak basa-basi saya ambil SIM-nya kembali dari pak polisi tersebut, sembari mengucapkan terima kasih kepada beliau. Entah apa yang ada di benak pak polisi tadi selama 20-30 detik saat beliau terdiam sambil melihat kartu SIM saya, yang jelas saat itu saya sudah menyerahkan diri saya kepada Allah dengan mencoba berbicara sebaik dan sebenar-benarnya untuk mengakui bahwa memang saya yang khilaf  dan saya siap menerima apapun hukuman-Nya yang diberikan lewat para petugas polisi di jalan.

Namun mungkin Allah punya jalan lain untuk mengingatkan saya dan pak polisi tersebut yang sebagai manusia tak lepas dari salah dan khilaf, dan Alhamdulillah saya bisa mengambil banyak pelajaran dari persitiwa yang saya alami saat itu tanpa harus mengeluarkan rupiah sepeser pun dan semoga pak polisi itu pun bisa mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut dan tidak lagi menawarkan “jasa damai” kepada para pelanggar peraturan di jalan.

ramadoni (23 Posts)

Lelaki ini merupakan anak sulung dari dua bersaudara. Tahun 2005, Doni melalui SPMB diterima di program Studi S1 Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia dan mendapat gelar Sarjana Keperawatan tahun 2009. Walau mengenyam materi keperawatan, Ia sebenarnya sangat menyukai bidang Web Development, Photography, Videography, Computer Hardware, Social Media, dan Olahraga (Taekwondo dan Volley). Selama menjadi mahasiswa ia aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa baik tingkat Fakultas maupun Universitas. Di usia 23 tahun Doni mampu membulatkan tekad untuk segera menggenapkan separuh agama nya dengan menikahi perempuan pilihannya, Nurul Widiyastuti. Dalam berumah tangga, Ia ingin sekali menjadi ustadz minimal di keluarga nya sendiri yang senantiasa mengingatkan dan memberi contoh yang baik tentang nilai-nilai Islam.


1 Comment

Leave a Reply