Ketika Maut Menyapa, Siapkah Kita Tersenyum?

Nilai Sebuah SenyumanMati adalah satu-satunya kepastian dalam hidup, dan merupakan satu-satunya alasan bagi manusia untuk tidak terlalu mencintai dunianya. Namun rupanya, tak semua orang sadar dan paham bahwa ia akan mati di kemudian hari dan seluruh perbuatannya selama hidup akan dipertanggung jawabkan setelahnya.

Semalam lewat BBM saya berdua dengan istri sempat berdiskusi singkat mengenai maut ini, kami sadar suatu saat nanti pertemuan kami melalui akad nikah tempo hari akan menemukan akhir, dan kami sangat berharap maut lah yang kemudian akan memisahkan kami berdua. Namun akhirnya timbul pertanyaan, mati seperti apa yang memisahkan kami berdua nanti? Apakah masing-masing dari kami bisa ridho dengan kematian salah satu dari kami? Dan bisa kah kematian salah satu dari kami nanti membawa senyuman, baik bagi yang meninggalkan maupun yang ditinggalkan entah itu pasangan, anak, ataupun orang-orang yang ada di sekeliling kami?

Beberapa yang kami pahami mengenai senyum yang tercipta akibat kematian adalah sebagai berikut:

  • Bahwa amal kebaikan yang lah yang bisa membuat seorang manusia tersenyum saat maut menyapanya, seperti yang hadits berikut katakan:

Ada tiga perkara yang mengikuti mayit sesudah wafatnya, yaitu keluarganya, hartanya dan amalnya. Yang dua kembali dan yang satu tinggal bersamanya. Yang pulang kembali adalah keluarga dan hartanya, sedangkan yang tinggal bersamanya adalah amalnya. (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Berteman  baik sebanyak-banyaknya dengan orang-orang yang beriman dan tidak menyekutukan Allah. 

Apabila seorang muslim wafat dan jenazahnya dishalati oleh empat puluh orang yang tidak bersyirik kepada Allah maka Allah mengijinkan syafaat (pertolongan) oleh mereka baginya (si mayit). (HR. Abu Dawud)

  • Selalu berhati-hati dalam bertindak, jangan sampai lalai dengan apa yang Allah perintahkan, pun jangan sampai melanggar apa yang telah Allah larang. 

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Al-Hasyr : 18)

  • Selalu mengingat kematian, banyak bersyukur atas kondisi diri kita saat ini, dan memperbanyak doa. 

Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, pesankan sesuatu kepadaku yang akan berguna bagiku dari sisi Allah.” Nabi Saw lalu bersabda: “Perbanyaklah mengingat kematian maka kamu akan terhibur dari (kelelahan) dunia, dan hendaklah kamu bersyukur. Sesungguhnya bersyukur akan menambah kenikmatan Allah, dan perbanyaklah doa. Sesungguhnya kamu tidak mengetahui kapan doamu akan terkabul.” (HR. Ath-Thabrani)

Semoga kita termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang bisa tersenyum dan menebar senyuman saat maut menyapa diri di kemudian hari.

 

Yang menulis tidak lebih baik dari yang membaca.

Wallahu A’lam Bishawab, dan hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

ramadoni (23 Posts)

Lelaki ini merupakan anak sulung dari dua bersaudara. Tahun 2005, Doni melalui SPMB diterima di program Studi S1 Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia dan mendapat gelar Sarjana Keperawatan tahun 2009. Walau mengenyam materi keperawatan, Ia sebenarnya sangat menyukai bidang Web Development, Photography, Videography, Computer Hardware, Social Media, dan Olahraga (Taekwondo dan Volley). Selama menjadi mahasiswa ia aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa baik tingkat Fakultas maupun Universitas. Di usia 23 tahun Doni mampu membulatkan tekad untuk segera menggenapkan separuh agama nya dengan menikahi perempuan pilihannya, Nurul Widiyastuti. Dalam berumah tangga, Ia ingin sekali menjadi ustadz minimal di keluarga nya sendiri yang senantiasa mengingatkan dan memberi contoh yang baik tentang nilai-nilai Islam.


Leave a Reply