Konsistensi : Tantangan Terberat dalam Hidup

Kehidupan manusia di dunia memang selalu menarik untuk dijadikan bahan pembicaraan. Aspek yang melingkupinya pun nyaris tak terbatas, tergantung kacamata apa yang kita gunakan untuk melihat kehidupan manusia tersebut baik secara individu maupun secara masal dalam wujud peradaban. Namun sebagai orang awam dalam ilmu ke-manusia-an yang juga tertarik untuk membicarakan kehidupan manusia di dunia ini, saya ingin sekali melihat lebih dalam mengenai sebuah kecenderungan seorang manusia dalam berpikir, berkata, dan bertindak. Kecenderungan yang saya maksud adalah konsistensi, yaitu kecenderungan sesesorang untuk terus melakukan sesuatu apapun kondisinya, kapanpun waktunya, dan siapapun orang yang ada di sekitarnya.

consistency

Masing-masing orang berbeda kadar konsistensinya, ada yang tinggi dan ada juga yang rendah tergantung dalam hal apa yang ia lakukan. Sepengamatan saya, orang-orang yang sukses di bidang apapun memiliki kadar konsistensi yang tinggi berhubungan dengan bidang yang membuatnya sukses, sebagai contoh seorang Michael Jordan menghabiskan lebih dari separuh hidupnya untuk berlatih bola basket, begitu pun tokoh-tokoh sukses lain baik di bidang olahraga, bisnis, politik, maupun agama. Mereka memiliki kadar konsistensi lebih di hal-hal tertentu yang pada akhirnya membawa mereka pada sebuah kesuksesan.

Islam pun tak luput mengajarkan perihal konsistensi ini kepada umatnya yang lebih dikenal sebagai Istiqomah.

Allah SWT berfirman dalam Quran-Nya :

Maka tetaplah (Istiqâmahlah) kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS 11:112).

Ayat tersebut memerintahkan umat Islam untuk secara terus menerus berbuat kebaikan dan selalu berada di jalan yang benar, adapun bila melakukan kesalahan maka bertaubatlah segera lalu menuju ke jalan yang benar kemudian berkonsisten di dalamnya dan tidak kembali melakukan kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat sebelumnya.

Namun rupanya tak seindah yang terucap dan tak semanis yang terlihat, karena begitu banyaknya halangan (kebanyakan halangan mental/psikis) yang membuat manusia seringkali tidak konsisten dalam melakukan hal-hal yang sebenarnya bisa membawanya ke sebuah kesuksesan dunia bahkan juga akhirat. Terlalu banyak dan sering rasa malas yang timbul dalam melakukan hal-hal baik, tidak jarang pula pikiran negatif dan rasa takut dinilai negatif oleh orang lain juga membuat perbuatan-perbuatan baik tidak secara konsisten dilakukan. Padahal semua itu hanya ada di kepala kita sendiri dan tidak nyata sama sekali.

Lalu pertanyaannya, siapa yang bisa melawan tantangan dan mengubah itu semua? 

Saya yakin, pembaca yang budiman pasti sudah tahu jawabannya, dan tidak akan menyalahkan siapa-siapa selain….(isi sendiri)

ramadoni (23 Posts)

Lelaki ini merupakan anak sulung dari dua bersaudara. Tahun 2005, Doni melalui SPMB diterima di program Studi S1 Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia dan mendapat gelar Sarjana Keperawatan tahun 2009. Walau mengenyam materi keperawatan, Ia sebenarnya sangat menyukai bidang Web Development, Photography, Videography, Computer Hardware, Social Media, dan Olahraga (Taekwondo dan Volley). Selama menjadi mahasiswa ia aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa baik tingkat Fakultas maupun Universitas. Di usia 23 tahun Doni mampu membulatkan tekad untuk segera menggenapkan separuh agama nya dengan menikahi perempuan pilihannya, Nurul Widiyastuti. Dalam berumah tangga, Ia ingin sekali menjadi ustadz minimal di keluarga nya sendiri yang senantiasa mengingatkan dan memberi contoh yang baik tentang nilai-nilai Islam.


Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.