Seharusnya…

seharusnya...

Seharusnya,
buku pelajaran yang sekolah mereka punya sama dengan buku pelajaran yang siswa-nya bersekolah di ibukota.

Seharusnya,
Ketersediaan jumlah guru tidak menghambat kegiatan belajar mengajar mereka, seperti hal-nya ketersediaan jumlah guru di ibukota.

Seharusnya,
Nikmat bersekolah hingga 12 tahun bisa mereka rasakan, sama seperti halnya rata-rata siswa yang bersekolah di ibukota.

Seharusnya,
Alat penunjang pendidikan yang ada di sekolah ini, sama seperti yang disediakan untuk sekolah-sekolah di ibukota.

Ini baru berbicara angka, belum mengenai kualitas buku-buku hingga tenaga pendidik.

Mengapa “kami dibedakan?”

Bukan menjadi alasan ketika kami berada jauh dari ibukota. Karena kami pun mengibarkan bendera merah putih tiap senin-nya.

Lantas kenapa harus dibedakan sementara semangat belajar yang kami punya juga sama dengan mereka yang belajar di ibukota.

Keceriaan kami berada di sekolah mungkin sama atau bahkan lebih ceria kami jika untuk berlama-lama di sekolah, sedang mereka yang di ibukota lebih cepat bosan berada di sekolah.

Senyum kami sama dengan senyum mereka yang bersekolah di ibukota, atau bisa jadi lebih bahagia kami karena terkadang guru kami mengajak kami ke sawah belakang sekolah ketika mengenalkan kami tentang irigasi sawah.

Timur Indonesia bangga punya kami sebagai anak didik nya,
Lalu apakah yang di Pusat juga? Jika iya, kenapa kami dibedakan?

SD Katolik Munde,
Desa Tedakisa, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.

lunbul89 (75 Posts)

Bulun panggilannya, merupakan anak bungsu dari dua bersaudara. Melalui SPMB tahun 2007 Nurul berhasil menjadi mahasiswi Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Ia mendapat gelar Sarjana Keperawatan Tahun 2011. Melanjutkan program studi Profesi Keperawatan satu tahun setelah nya hingga meraih gelar Ners. Juli 2012 ia menyudahi rangkaian studi selama 5 tahun. Aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa tingkat Fakultas, Lembaga dakwah Kampus juga Lembaga Dakwah Fakultas menjadi “tempat belajar” Nurul selama menjadi mahasiswi. Perempuan yang suka membaca buku, menulis, dan membaca puisi ini mengakhiri masa lajang nya dua bulan usai berakhirnya program profesi. Masih berdecak kagum dan bertasbih memuji Tuhan nya ketika dengan sadar bahwa yang menjadi suami nya kini ialah kakak tingkat satu fakultas nya saat menjadi mahasiswi yang meng-ospek angkatan-nya saat tahun 2007 lalu.


Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.