Menggapai Jodoh (Bagian 3)

Sebelum mulai membaca tulisan ini, ada baiknya menyimak dua bagian tulisan sebelumnya yang sangat terkait dengan tulisan ini:

  1. Menggapai Jodoh (Bagian 1)
  2. Menggapai Jodoh (Bagian 2)

Dalam tulisan terakhir (mudah-mudahan) dari seri “Menggapai Jodoh” ini, saya akan mencoba untuk membahas seperti apa proses sebelum menikah yang disyariatkan Islam, yang sesungguhnya sangat sesuai dengan kodrat manusia, yang juga sesungguhnya menjadi kunci kesuksesan pernikahan itu sendiri nantinya.

Beberapa tahun terakhir ada istilah yang cukup populer di kalangan masyarakat kita, khususnya di kalangan kampus baik kampus negeri maupun kampus swasta. Istilah tersebut adalah “ta’aruf”, istilah yang sering digunakan untuk menyebut proses perkenalan sebelum menikah, tapi sebetulnya istilah ta’ruf ini merupakan istilah yang sangat umum yang artinya “berkenalan” yang dapat digunakan dalam konteks apapun di luar konteks jodoh dan pernikahan, lalu kemudian entah kenapa di Indonesia kata ini mengalami penyempitan makna menjadi “perkenalan menuju proses pernikahan di kalangan umat Islam”.

Baiklah mari kita ikuti saja fenomena yang sudah terlanjur ada ini, kita gunakan istilah “ta’aruf” sebagai sebuah usaha untuk saling mengenal antara dua manusia yang sedang berjuang untuk menggapai jodoh terbaiknya.

Wahai saudaraku pejuang jodoh dari segala penjuru negeri, sesungguhnya tidak ada aturan khusus maupun aturan baku dalam menjalani proses ta’aruf, namun Islam sudah sangat jelas menerangkan bagaimana adab-adab bergaul antara pria dan wanita yang bukan mahrom dan tidak terikat dalam hubungan pernikahan, nah adab-adab itu lah yang dijadikan pegangan pokok dalam proses perkenalan ini. Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya:

1. Luruskan Niat

Senantiasa meng-update niat kita menikah, tentunya dengan konten yang sama yaitu ditujukan hanya untuk Allah SWT, tiada sebab lain ketika memutuskan untuk menikah kecuali dalam rangka ibadah kepada-Nya dan memenuhi salah satu dari sunnah Rosululloh SAW. Poin ini penting karena tidak mudah untuk menerima calon pasangan kita apa adanya ketika ada beberapa hal pada dirinya tak sesuai dengan “kriteria” yang kita punya.

2. Junjung Tinggi Kejujuran

Selama proses ta’aruf masing-masing pihak dipersilahkan menanyakan hal-hal yang dirasa penting bagi kelangsungan rumah tangga nantinya, seperti harapan dan prinsip hidup, hal yang disukai dan tidak disukai, dan keadaan masing-masing keluarga. Nah dalam menjawab semuanya tidak boleh ada kebohongan sedikit pun, jawablah apa adanya, lebih baik pahit di awal lalu berbuah manis kemudian karena disirami oleh keikhlasan, ketimbang manis di awal namun pahit kemudian karena jawaban yang tak sesuai dengan kenyataan. Bahayanya bila lalai dalam poin ini adalah, timbulnya rasa dikhianati dan dibohongi yang berujung selalu curiga dan suudzon sepanjang kehidupan berumah tangga, mau??

3. Jagalah Kesuciannya

Karena pernikahan adalah momen sakral dan suci dalam hidup semua orang, maka jagalah kesucian dari awal proses menujunya. Adab-adab selalu dipegang teguh diantaranya adalah tidak berkhalwat (berdua-duaan), pilihlah tempat yang tidak mengundang fitnah seperti kamar kos-kosan, diskotik, dan tempat-tempat kurang pantas lainnya.

4. Rahasiakan Prosesnya

“Loh kok dirahasiakan? ini kan hal yang baik, sesuai syariat kok prosesnya” , memang benar ini hal yang baik dan sesuai dengan syariat, namun tidak semua hal baik perlu diumbar karena khusus hal ini akan lebih banyak mudharat ketimbang manfaat apabila diberitahukan kepada khalayak ramai. Ghibah bisa sangat mudah terjadi, apalagi bila ta’arufnya tidak berjalan sesuasi yang diinginkan, misalnya harus terhenti dan tidak berlanjut ke jenjang pernikahan karena ada hal-hal yang tidak cocok diantara kedua pejuang jodoh yang melaksanakannya. Oleh karena itu cukuplah orang-orang terdekat diantara kedua pihak yang mengetahui, rahasiakan proses ini dari khalayak ramai hingga tanggal akad nikah sudah disepakati kedua pihak dan siap menyebar undangan pernikahan (termasuk didalamnya untuk merahasiakan proses khitbah/lamaran).

5. Efektif dan Efisien

Berkomunikasi lah untuk hal-hal yang benar-benar perlu untuk mengetahui tentang pribadi calon pasangan dan lakukanlah dengan serius juga sopan. Hindari pola komunikasi yang mencla-mencle dan membahas hal-hal yang tidak perlu, salah satunya hindari senda gurau yang berlebihan.

6. Menerima/menolak dengan Baik

Ta’aruf memang diharapkan oleh kedua pihak dapat memberikan akhir yang manis dan dilanjutkan ke jenjang pernikahan, namun Allah-lah Sang Penguasa Hati dan Maha Mengetahui apa-apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Bila dalam proses ta’aruf ditemukan kecocokan maka sampaikanlah dengan bahasa yang tetap wajar, baik dan sopan, pun sebaliknya bila ada ketidakcocokan yang begitu mendasar dan tidak bisa dilanjutkan proses ta’arufnya, maka sudahilah dengan baik. Gunakan bahasa yang baik dan sopan, utarakan alasan yang masuk akal dan jangan berlama-lama memberikan kejelasan untuk menyudahi proses ta’aruf.

7. Perantara dalam Ta’aruf

Setidaknya ada tiga hal yang membuat kehadiran perantara di proses ta’aruf begitu penting:

  1. Menjaga kebersihan hati masing-masing pihak (menghindari khalwat/berduaan)
  2. Menjaga kejelasan proses ta’aruf (ibarat pertandingan, perantara lah yg menjadi wasitnya)
  3. Menjaga obyektifitas informasi dari masing-masing pihak

Selain itu jangan sampai salah kaprah, banyak yang mengira yang boleh menjadi perantara hanya murobbi/ah (guru ngaji) saja, padahal orang tua, teman, dan saudara pun bisa menjadi perantara dalam sebuah proses ta’aruf asalkan paham mengenai proses ta’aruf dengan segala adab-adabnya sesuai syariat Islam dan dengan jelas mengetahui siapa yang sedang ia perantarai. Dan sebaik-baiknya perantara dalam sebuah proses ta’aruf adalah ia yang telah menikah karena sudah lebih tau prosesnya juga untuk menghindari fitnah dengan salah satu pihak.

Wah, tidak terasa rupanya sudah panjang juga ini tulisannya, padahal saya belum membahas proses step by step dalam berta’aruf. hhmmm… daripada informasinya terlalu banyak dan tidak terserap dengan baik semuanya, ada baiknya para pembaca kembali menantikan tulisan saya berikutnya di Menggapai Jodoh (Bagian 4).

ramadoni (23 Posts)

Lelaki ini merupakan anak sulung dari dua bersaudara. Tahun 2005, Doni melalui SPMB diterima di program Studi S1 Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia dan mendapat gelar Sarjana Keperawatan tahun 2009. Walau mengenyam materi keperawatan, Ia sebenarnya sangat menyukai bidang Web Development, Photography, Videography, Computer Hardware, Social Media, dan Olahraga (Taekwondo dan Volley). Selama menjadi mahasiswa ia aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa baik tingkat Fakultas maupun Universitas. Di usia 23 tahun Doni mampu membulatkan tekad untuk segera menggenapkan separuh agama nya dengan menikahi perempuan pilihannya, Nurul Widiyastuti. Dalam berumah tangga, Ia ingin sekali menjadi ustadz minimal di keluarga nya sendiri yang senantiasa mengingatkan dan memberi contoh yang baik tentang nilai-nilai Islam.


Leave a Reply