fa aina tadzhabun , jiwa?

Pada usia ini saya menyadari bahwa banyak perubahan dalam hidup.
Waktu terus berlalu dan selalu seperti itu.
Pemahaman mengenai tujuan hidup pun bertumbuh
hingga mencemaskan, sudah berapa banyak amal kebaikan yang didapat.
Kelak amal baik tersebut menjadi sejatinya teman, bukan orangtua, suami, juga saudara.

Hari ke hari pemahaman akan tujuan hidup menemui titik ujungnya.
Kecil dulu bisa jadi saya puasa karena orang tua mendidik saya untuk puasa, tanpa saya tahu dalil yang memerintahkan berpuasa ramadhan. Shalat pun dimulai mengikuti gerakan shalat nya orangtua tanpa hafal dan fasih dengan bacaan shalat. Juga keinginan dan kerinduan melihat ka’bah, sudah dikenalkan sejak saya manasik haji dari raudhatul athfal th 1995 lalu. Lalu ibadah lain-nya yang saat kecil sudah mulai ditanamkan orang tua. Ini kisah saya, bisa jadi sama atau bahkan berbeda dari anak kecil kebanyakan.

Kini, pemahaman itu mulai tumbuh.
Mendewasa seperti halnya usia.
Sadar bahwasanya tujuan hidup menjadi kunci utama segalanya.
Menjadi pengingat saat alpha hadir.

Bukan kah sangat jelas bahwa :
“Tidaklah Aku jadikan jin dan manusia, kecuali agar mereka beribadah kepada Ku”. (Az-Zariyat: 56)

Fa aina tadzhabun, duhai jiwa yang hidup?

Semoga Allah selalu menjadi tujuan.
dalam gerak, dalam ucap, juga dalam niat. pada fajar hingga senja. pada terbuka nya mata hingga tertutup untuk selama nya.

sudah kah banyak teman sejati mu?
yang sebenar-benarnya teman.
yang sebaik-baiknya teman.
Renungkan lalu perbanyak lah selagi malaikat maut belum muncul dihadapan.

lunbul89 (75 Posts)

Bulun panggilannya, merupakan anak bungsu dari dua bersaudara. Melalui SPMB tahun 2007 Nurul berhasil menjadi mahasiswi Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Ia mendapat gelar Sarjana Keperawatan Tahun 2011. Melanjutkan program studi Profesi Keperawatan satu tahun setelah nya hingga meraih gelar Ners. Juli 2012 ia menyudahi rangkaian studi selama 5 tahun. Aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa tingkat Fakultas, Lembaga dakwah Kampus juga Lembaga Dakwah Fakultas menjadi “tempat belajar” Nurul selama menjadi mahasiswi. Perempuan yang suka membaca buku, menulis, dan membaca puisi ini mengakhiri masa lajang nya dua bulan usai berakhirnya program profesi. Masih berdecak kagum dan bertasbih memuji Tuhan nya ketika dengan sadar bahwa yang menjadi suami nya kini ialah kakak tingkat satu fakultas nya saat menjadi mahasiswi yang meng-ospek angkatan-nya saat tahun 2007 lalu.


Categories: Uncategorized

Leave a Reply